MASIGNASUKA101
1236281468114096930

Siapa Yang Memulai Perang Tarif.? Ini Kata Pengamat

Siapa Yang Memulai Perang Tarif.? Ini Kata Pengamat
Add Comments
Minggu, 10 Maret 2019
Melihat perang tarif yang terjadi di dalam layanan transportasi online ternyata cukup banyak menyita perhatian terutama dari para pengamat. Mereka menyesalkan kejadian ini karena kedua perusahaan yang saat ini mendominasi pasar Indonesia yaitu Gojek dan Grab hanya ingin menambah calon pelanggan baru atau mempertahankan pelanggan lama mereka dengan melakukan penyesuaian tarif dan promo tanpa memperhatikan mitra mereka masing-masing.

Heru Sutadi selaku pengamat transportasi dari teknologi komunikasi dan informasi (ICT) mengatakan bahwa pihak Grab yang telah memulai perang tarif ini, jadi tidak bisa lepas tangan begitu saja. Kenaikan angka pengguna Grab ini tidak lepas dari berbagai promo dan tarif yang terlampau murah bagi customer.

Baca Juga :


perang tarif ojek online, berita ojek online terbaru, drama ojek online, gojek,

Tambahnya, perusahaan asal Malaysia ini memang gencar melancarkan promo dengan tarif 1 rupiah guna menggaet customer dan menantang Gojek di pasar Indonesia. Wajar saja jika Gojek melakukan penyesuaian tarif, karena itu dimulai oleh Grab terlebih dahulu. Wajar saja, tidak perlu ada kritik, tambahnya.

Beliau juga menambahkan bahwa dalam persaingan ini, tarif yang kompetitif cuma satu dari tiga komponen guna menjaring lebih banyak pengguna. Masih ada dua komponen penentu lainnya, diantaranya yaitu layanan yang berkualitas dan kelengkapan layanan dalam satu aplikasi. Strategi penerapan tarif murah bagi konsumen juga harus memperhatikan kesejahteraan pengemudi sebagai pilar di bisnis ini dan jangan sampai pengemudi jadi pihak yang dirugikan akibat perang tarif ini.

Tambahnya lagi, beliau juga menegaskan bahwa saat ini kita tahu bahwa investasi ke Grab cukup besar, namun tidak sampai ke pengemudinya makanya sampai terjadi demo dan juga migrasi pengemudi, ungkapnya.
Fenomena migrasi pengemudi Grab ke Gojek ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan memberikan kenyamanan dan kesejahteraan bagi para mitra pengemudi. Selain  soal insentif dan tarif yang terlampau rendah bagi pengemudi Grab, layanan Gojek jauh lebih banyak dan populer guna mendongkrak pendapatan lebih layak, kata Heru kepada wartawan di Jakarta.

Para petinggi kedua perusahaan tersebut juga saling kritik menanggapi kebijakan yang dikeluarkan oleh masing-masing penyedia layanan transportasi online tersebut baik Gojek maupun Grab. Berdasarkan fakta dilapangan, tarif Gojek juga lebih tinggi dibanding Grab dan bahkan penghasilan pengemudi Gojek lebih besar daripada Grab. Sampai kapan persaingan yang tidak sehat ini berakhir dan seharusnya pemerintah berani menerbitkan sebuah aturan yang dapat menguntungkan bagi para penyedia layanan dan para pengemudi ojek online.

Jika hal ini terus berlangsung tanpa adanya tindak lanjut dari pihak terkait, maka bisa dibilang bahwa mitra pengemudi hanya dijadikan sapi peras oleh perusahaan penyedia layanan transportasi online untuk mendulang keuntungan yang sebesar-besarnya. Nah bagaimana tanggapan sobat mengenai hal ini.? Silakan isi di kolom komentar.